KRISIS EKONOMI GLOBAL MENJADI MALAPETAKA BAGI RAKYAT DUNIA


KRISI EKONOMI GLOBAL MENJADI MALAPETAKA BAGI RAKYAT DUNIA
Oleh : AGUSTINA DEWI C

Beberapa tahun terakhir ini terjadi secara beruntun krisis-krisis keuangan; krisis keuangan akibat jatuhnya harga saham perusahan-perusahaan internet (dot com) krisis subprime-mortgage (semacam kredit perumahan yang diberikan kepada kalangan yang rentan gagal bayar dengan dikenakan bunga tinggi dan bunga berbunga). Berbagai krisis itu menjadi lubang menganga yang telah mengakibatkan hancurnya hampir semua perusahaan besar keuangan dan investasi AS. Mereka terlibat dalam krisis ketidakmampuan membayar tagihan pada saat jatuh tempo dan lalu harus dinyatakan bankrut.
Beberapa hari dan minggu terakhir berita internasional dijejali dengan rubuhnya beberapa perusahaan besar -- mulai dari Halifax di Inggris hingga yang terakhir AIG perusahaan asuransi raksasa AS (yang ada di logo sponsor tim bola Manchester United) Sedemikian hebohnya kerobohan-kerobohan perusahaan ini hingga mengguncang hebat pasar saham di AS dan kemudian termasuk indonesia. Robohnya beberapa perusahaan seperti Lehman Brothers dan AIG – yang telah dimitoskan sebagai perusahaan yang tidak mungkin roboh -- telah mengguncang bursa-bursa saham seluruh dunia sehingga hampir semua mengalami kerugian.
Di AS, robohnya perusahaan-perusahaan raksasa (asetnya ratusan trilyun cing!!!) ini dipandang sebagai masalah serius. Raksasa Kapitalis Amerika Serikat bahkan sampai mengerahkan berbagai intervensi pemerintah untuk menyelamatkan perusahaan-perusahaan yang bangkrut itu. Pemerintah turun tangan menjamin agar perusahaan itu tidak langsung pailit, maka dikucurkan lah dana talangan (bail out) seperti halnya yang dilakukan oleh pemerintah kapitalis Indonesia menghadapi krisis ekonomi 98 lewat dana-dana talangan BLBI -- yang akhirnya menjadi lahan korupsi dan penjarahan para borjuis finansial.
Langkah intervensi pemerintah dalam ekonomi pasar di era kejayaan Globalisasi Pasar Bebas ini terasa mengagetkan dan menunjukkan kegentingan masalah. Bahkan beberapa komentar di media massa AS dan negara barat lainnya, menggunakan suatu ungkapan "Wall Street Socialism" (The Feds Subprime Solution James Grant, NYT, August 26, 2007, dapat diunduh di http://www.nytimes.com/2007/08/26/opinion/26grant.html)
Bukan,..., AS dan Wall Street bukan sedang mengalami revolusi sosialis, tapi karena intervensi pemerintah dalam ekonomi diidentikkan dengan sosialisme. Grant menulis dengan terang benderang dan jadi bahan pembicaraan di media-media barat termasuk AS, bahwa dukungan terhadap perusahaan-perusahaan yang roboh ini karena kalangan pimpinan politik negara kapitalis AS (terutama otoritas moneter) tampaknya menyadari bahwa
"capitalism without financial failure is not capitalism at all, but a kind of socialism for the rich." Kapitalisme tanpa kegagalan finansial sama sekali bukan lah kapitalisme, tapi sebuah sosialisme buat kaum kaya
Ya, bila persaingan adalah padanan buat kapitalisme pasar bebas, maka perlindungan adalah padanan bagi sosialisme. Dan itu ternyata dianggap hal yang baik, tapi bila dilakukan di negara kapitalis dan dinikmati kaum kaya yang harus mendapat perlindungan. Kita di Indonesia tentu akan segera teringat perlindungan dan pelayanan buat kaum kaya juga dilakukan untuk pemulihan krisis keuangan Asia yang menerjang Indonesia sejak 1998. Karena yang dilindungi adalah kepentingan kaum borjuis maka jelas lah mengapa BLBI tidak memulihkan ekonomi apalagi menguntungkan rakyat pekerja, tapi mendukung pemulihan dan melindungi para borjuis. BLBI menjadi sarang mencari akumulasi kekayaan yang hilang akibat krisis, penjarahan keuangan Negara dilakukan atas nama penyelamatan bangsa. Akibatnya jelas dia memicu mega korupsi yang melibatkan semua pejabat terkait: Bank Sentral, Kejaksaan, BPPN, semua mencelupkan tangan untuk mencicipi penjarahan oleh kaum modal atas uang rakyat yang dikelola Negara.
Grant seorang analis pasar saham yang punya reputasi terkenal, yang sama sekali bukan seorang Marxis menutup tulisannya dengan alinea semacam ini:
What could account for the weakness of our credit markets? Why does the Fed feel the need to intervene at the drop of a market? The reasons have to do with an idea set firmly in place in the 1930s and expanded at every crisis up to the present. This is the notion that, while the risks inherent in the business of lending and borrowing should be finally borne by the public, the profits of that line of work should mainly accrue to the lenders and borrowers.
Apa yang dapat dicatat sebagai kelemahan dari pasar kredit kita? Mengapa (Bank) Federal ("the Fed) merasa pelu untuk melakukan intervensi terhadap kejatuhan di suatu pasar? Alasannya terkait dengan ide yang berdiri kokoh di tahun 1930-an dan berkelanjutan pada setiap krisis hingga saat ini. Ialah suatu gagasan, bahwa resiko yang inheren (terkandung melekat) di dalam bisnis peminjaman modal (lending and borrowing) harus lah dipikul akhirnya oleh publik, sementara keuntungan/lprofit-nya harus utamanya dinikmati para "lenders dan borrowers" (kapitalis finansial)
Hari-hari terakhir telah membantah segala omong kosong pemerintahan Kapitalis SBY-JK dan para ekonom Neoliberal-nya. Indonesia PASTI terhantam krisis. Kebanyakan dari kita tentu tidak tahan lagi rasanya kita melihat kebodohan yang disuarakan para pejabat publik, yang mau meyakinkan kita bahwa Indonesia bisa terputus dari jaring ekonomi politik globalisasi pasar bebas. Yang mau meyakinkan kita kapitalisme akan bangkit kembali dan memulihkan dirinya. Ya tapi memulihkan kapitalisme artinya mengorbankan rakyat pekerja sebagai tumbalnya setiap kali ia memulihkan dirinya. Kapitalisme menyelamatkan diri dengan menerapkan sosialisme buat kaum kaya.
Kita sudah melihat tanda-tanda badai yang lebih hebat dari krisis 97-98, tapi apakah kita siap mengambil posisi politik untuk kepentingan rakyat pekerja? Saatnya beranjak dari kegelapan, berjalan mengembalikan semangat yang menerangi pembebasan nasional negeri ini. Semangat menuju masyarakat tanpa penindasan, tanpa penghisapan. Masyarakat sosialis buat semua, bukan “sosialisme buat kaum kaya”

Komentar

Postingan Populer